LEBIH KOREKTIF LAGI

Bacaan : Efesus 5:1–21
“Tetapi segala sesuatu yang telah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” (Efesus 5:13)
“Tetapi segala sesuatu yang telah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” (Efesus 5:13)
Salah satu yang sebenarnya tidak disukai oleh manusia adalah, ketika dikoreksi. Kadang–kadang seorang hamba Tuhan berkata; “Saya terbuka saja, apabila ada sesuatu yang salah yang harus saya perbaiki, saya siap diingatkan ataupun dikritik.” Namun ketika koreksi itu dilakukan seseorang kepada dirinya, rasanya sangat berat, bukan? Rupanya antara “mengatakan” dan “mengalami” sangat jauh jaraknya. Ia berusaha membela diri, rationalisasi, ya intinya tidak bisa dikoreksi.
Memang hal ini berat bagi orang berdosa yang masih dikuasai oleh dosa, tetapi menjadi tidak berat bagi orang berdosa yang sudah disucikan oleh Roh Kudus. Apakah di jemaat Efesus ada jemaat ataupun pelayan Tuhan yang susah untuk dikoreksi? Atau bahkan merasa sungkan untuk mengoreksi orang lain yang bersalah? Bila melihat Efesus 5:1–12, Paulus menyebutkan cukup jelas dan rinci, tentang karakter dan perilaku anak–anak terang. Ia mulai dengan soal hidup dalam kasih (ay.2).Jika kasih yang menjadi fundasi, maka di sana ada pengorbanan, kekudusan, perkataan yang benar dan berkualitas. Dalam hidup orang benar (anak terang) tidak ada berhala, pergaulan yang buruk, tidak ada kegelapan, kecuali menelanjangi perbuatan itu. Ingatkah kita, bagaimana Allah menunjukkan kekudusan–Nya di taman Eden, yang menjadi cemar karena ketidaktaatan itu, sehingga Ia harus mengusir dosa dari sana? (Kej. 3:23). Tuhan yang adalah Terang itu, berkuasa menerangi kegelapan, sehingga perbuatan yang gelap itu tak mungkin tersembunyi.
Seperti kata Harold Hoehner, penafsir kitab Efesus, “When light exposes evil deeds, they become visible, manifest for what they really are.” Bahwa memang ketika perbuatan jahat diterangi, semuanya akan tampak, sehingga terlihatlah mereka apa adanya. Seorang Kristen yang hidup benar, tidak berarti sudah sempurna. Sampai ajal pun, tak seorang pun bisa luput dari godaan dan pencobaan. Namun yang ada padanya adalah kesediaan untuk dibentuk,
mau diajar, ditegur dan dinasihati. Belajarlah dari Petrus, yang mau menerima koreksi teman
sekerjanya, Paulus (Gal. 2:11–14). Sebaliknya, menegur atau mengoreksi orang lain itu juga tidak gampang. Karena orang akan bilang, “Koreksi diri sendiri dulu sebelum melihat orang lain.”
Jika meladeni konsep tersebut, kapan seseorang layak mengoreksi sesamanya? Tetapi mungkin itu merupakan suatu pengorbanan, meskipun resikonya bisa dimusuhi (cf. Gal. 4:16). Sering dikatakan, “apa yang yang saudara tahu itu untuk kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan orang lain, lakukanlah itu.” Sebab lebih baik teguran yang nyata–nyata, daripada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik…” (Amsal 27:5–6). Bagaimana sikap kita? Dikoreksi maupun mengoreksi sama–sama sulit, tetapi kalau itu harus terjadi, berarti kita sedang dibentuk untuk lebih baik lagi. Siapkah?
Inspirasi: Memberi koreksi atau menegur orang lain di dunia yang penuh cacat cela oleh dosa ini, bukanlah sesuatu yang baru. Itu sudah dari dulu, sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

The Living Waters
April 05, 2025

Kewargaan Surga
April 04, 2025

Berkat dalam Memberi
April 03, 2025