SAKSI: MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI TUHAN

SAKSI: MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI TUHAN

Firman Tuhan    : Yohanes 1:19-28

“Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias”. (Yohanes 1:20)

 

Di Betania, tempat Yohanes biasa membaptis, Allah memulai karya-Nya. Dari sanalah suara seorang berseru di padang gurun, hingga menarik perhatian orang- orang penting dari kota megah Yerusalem: para imam dan orang-orang Lewi datang menemuinya, ingin tahu siapa dia dan apa yang sedang dikerjakannya.

Seringkali, ketika berhadapan dengan orang-orang penting, kesaksian kita bisa berubah. Tekanan situasi, rasa takut kehilangan posisi, keinginan meraih pujian atau kesempatan lebih baik dapat membuat seseorang tergoda berdusta, meski hanya dengan menambah atau mengurangi sedikit saja. Namun, dimotivasi oleh apa pun, seorang saksi sejati tetap tidak boleh berdusta.

Yohanes, seperti ditegaskan oleh penulis kitab ini, mengaku dengan tepat dan jujur. Ia menyatakan kebenaran tentang dirinya dan pekerjaan pelayanannya. “Aku bukan Mesias”, “Akulah suara yang berseru-seru: Bertobatlah, luruskanlah jalan Tuhan, Kerajaan Allah sudah dekat”, “Dia ada di sini, ditengah-tengah kamu”, dan lagi Yohanes katakan, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. (Yohanes 1:20, 26-27; Matius 3:2; Markus 1:4).

Sungguh Ia seorang saksi yang sejati. Dimanapun ia berada dan kepada siapa pun ia berbicara, isi pesannya tetap sama. Ia tahu segala yang dikerjakannya hanyalah untuk mempersiapkan orang bertobat dari jalannya yang jahat, agar mereka siap menyambut kedatangan Kristus. Yohanes sadar posisinya di hadapan Dia yang mengutusnya— tidak Layak. Jawaban-jawabannya sangat rendah hati, penuh penyangkalan diri, dan setia menunjuk kepada Mesias.

Kita pun dipanggil menjadi saksi Kristus. Sebagai saksi, kita tak boleh berdusta atau goyah, sebab tugas kita adalah mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Sudahkah seluruh hidup kita benar-benar mempersiapkan jalan bagi Tuhan— agar orang lain siap bertemu dengan-Nya secara pribadi? Dimanapun kita ditempatkan, adakah kita tetap setia, rendah hati dan penuh penyangkalan? Adakah orang bertanya pada kita, tertarik oleh hidup yang memantulkan karya Allah? Ataukah tak seorang pun bertanya, karena kita belum mencerminkan keindahan Kristus? Dan pada akhirnya, merasa layakkah kita menjadi saksi-Nya?

Inspirasi: Thomas Manton menulis, “Kita tidak diutus ke dunia untuk hidup bagi diri sendiri, melainkan bagi Allah. Bukan untuk mengejar kemuliaan, kenyamanan, atau keuntungan kita, tetapi untuk memuliakan Allah dalam segala hal. Bukan hanya di surga nanti, tetapi kemuliaan Allah harus menjadi pekerjaan dan tujuan utama kita selama hidup di bumi ini.”

LPMI/Suek Herwidya Estherline

share

Recommended Posts