TERUS BERKORBAN

TERUS BERKORBAN

Firman Tuhan  : Roma 16:1-16 

“Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.” (Roma 16:4) 

 

John Stott, seorang tokoh Kristen (1921-2011) asal Inggris, yang dikenal sebagai teolog, pengkhotbah, penginjil, dan penulis, melihat “pengorbanan sebagai sentral kehidupan Kristen,  mengacu pada pengorbanan Kristus, yang rela mati sebagai pengganti (substitutionary) orang berdosa. Kristus memanggil orang percaya untuk memiliki gaya hidup yang diwarnai penyangkalan diri, murah hati, dan mau melayani.” Kualifikasi tersebut memang terlihat dalam kehidupan orang percaya pada abad pertama, seperti yang Paulus sebutkan dalam suratnya kepada jemaat Roma.

Dalam suratnya kepada jemaat Roma pasal 16, Paulus menyebutkan ada 26 orang rekan sekerja, selain dari mereka yang tak disebutkan namanya. Priskila dan Akwila termasuk di antaranya, yang disebut Paulus mau “mempertaruhkan nyawa” mereka bagi Paulus (they risked their lives for me). Dalam hal apa mereka mempertaruhkan nyawanya, tidak ditulis. Yang jelas bukan saja Paulus sendiri berterima kasih pada mereka, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. “Ada kisahkisah tersembunyi dalam sejarah” yang tidak tercatat di Alkitab. Kapan dan bagaimana Priskila dan Akwila mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan Paulus (3-4)? Bagaimana ibu Rufus menjadi ibu bagi Paulus (13)? Siapakah biang keributan yang menurut Paulus perlu diwaspadai oleh jemaat di Roma (17-18)? Mungkin suatu hari di sorga kita akan mendapatkan jawabannya!” (Warren Wiersbe). Pada suatu hari ada seorang bapak, dia guru sekolah Minggu, yang dijuluki oleh jemaat di gerejanya sebagai orang suka berkorban dan tidak kenal lelah. Ia banyak mempersembahkan waktu dan tenaganya dalam melayani anak-anak. Apakah motifnya tulus? Tuhan yang tahu. Yang jelas, Tuhan memberkati semua pengorbanan, bila itu untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk manusia (cf. Kol. 3:17, 23).

Dalam pelayanan kita selama ini, pernahkah kita mengharapkan apresiasi, karena kita merasa sudah banyak berbuat sesuatu? Padahal Tuhan Yesus sudah mengatakan “Janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi, akan membalasnya kepadamu?” (Mat. 6:3-4). Kalau kita adalah orang yang suka berkorban,  kita pun harus tahu persis bahwa semua hanyalah karena anugerah. Pemazmur pernah berkata, “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan, akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya.” Maz.116:12-14). Kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memberi apa yang ada pada kita. Tuhan memberkati.

Inspirasi: Mental hitung jasa, menanti apresiasi, membanding-banding diri dengan orang lain, akan tergeser dengan sendirinya, dari seseorang yang hatinya murni dan tulus melayani. 

 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts