TERUS BERPERANG

Firman Tuhan : Bilangan 21:21-30
“Tetapi orang Israel mengalahkan dia dengan mata pedang dan menduduki negerinya dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok, “sampai kepada bani Amon, sebab batas daerah bani Amon itu kuat.” (Bil. 21:24 )
S Lewis pernah berkata, “Enemy occupied territory – that is what this world is. Christianity is the story of how the rightful king has landed, you might say landed in disguise, and is calling us all to take a part in a great campaign in sabotage.” Benarlah bahwa karena Iblis telah menguasai dunia ini, maka kekristenan yang hadir di dunia ini, harus berbuat sesuatu untuk menggagalkan segala rencana jahat musuh (Iblis). Sama halnya dengan bangsa Israel, harus terus berperang dengan segala musuhnya, dalam perjalanan menuju Kanaan.
Perjalanan umat Israel setelah keluar dari Mesir, terus menerus diwarnai peperangan, terus menghadapi segala bentuk rintangan dan gangguan, sampai memasuki tanah perjanjian (Kanaan) itu. Makin dekat memasuki tanah itu, makin banyak hambatan yang ditemui. Tatkala mereka sedang menuju Moab, harus melewati kawasan Amori, namun Sihon raja Hesybon di kawasan Amori itu, tidak mengijinkan. Apakah bangsa Israel menyerah? Tidak! Mereka harus memeranginya dan menang. Dikatakan bahwa mereka mengalahkan Sihon (ay.24), tetapi sesudah itu masih ada lagi musuh lainnya (ada Og raja Basan dan Balak raja Moab). Jadi memang ini suatu perjalanan perang. Setelah itu apakah sudah selesai? Belum juga. Dalam Bilangan ps. 25 dicatat, ketika bangsa Israel ada di Sitim, mereka ikut menyembah Baal Peor dan terjerat dalam perzinahan. Ternyata ada musuh “kedagingan” yang mengalahkan mereka. (Cf . 1 Yoh.2:16). Akibatnya, Tuhan menghukum mereka yang terlibat itu, dengan cara menggantungnya di tempat terang (ay. 1-5). Paulus menulis, “Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Gal.6:7).
Bagaimana dengan kekristenan kita? Setiap orang Kristen sejati mengakui dan mengalami bahwa, kehidupan Kristen itu bagaikan sebuah perjalanan (spiritual journey). Ia harus berhadapan dengan musuh: mulai dari dunia ini – dengan segala sistem kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran (1 Yoh.2:16), lalu diri sendiri – dengan segala keinginan daging (dosa) nya (Gal. 5:17), kemudian si Iblis dengan segala tipu muslihatnya (Ef. 6:10-12). Perang rohani takkan ada habishabisnya, sampai kita meninggalkan dunia ini. Benarlah kata seorang hamba Tuhan, “Anda menjadi Kristen, berarti siap masuk perang.” Atau seperti kata Warren Wiersbe, “Anda menjadi tentara sekarang!” Karena cepat atau lambat seorang Kristen akan mendapati, bahwa kehidupan Kristen adalah suatu medan perang, bukan lapangan permainan, dan bahwa ia menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari dirinya – jika Allah tidak beserta dengan dia.” Rasul Petrus menulis, Iblis bagaikan singa yang mengaum mencari mangsa yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.” (1 Pet. 5:8-9). “Jadilah kuat dalam Dia!”
Inspirasi: Menampilkan kekristenan di arena dunia yang sarat konflik ini, bukan saja sukar, tetapi mustahil, apabila tidak mengandalkan kuasa Kristus, komandan perang rohani itu.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

Jangan Ada Padamu Allah Lain di Hadapan-Ku
Februari 03, 2026

KASIHILAH SESAMAMU
Februari 02, 2026

TAK TERDUGA !!!
Januari 30, 2026

