Kepemimpinan yang Melayani

Kepemimpinan yang Melayani

Firman Tuhan                        : 1 Raja-raja 12: 1-8

…. para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: “Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?” Mereka berkata: “Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba- hambamu sepanjang waktu.” (1 Raja-raja 12: 6-7)

 

Saat Alm Sultan Hamengku Buwono IX naik tahta, beliau membangun tagline legendaris “Tahta untuk Rakyat” Ketika Proklamasi diundangkan Soekarno-Hatta, beliau salah satu raja yang paling berpengaruh di antara 250 an Sultan yang masih berkuasa dan memiliki legitimasi politik dan hukum di nusantara (meskipun dibawah jajahan Belanda). Tidak semuanya langsung 100% menyerahkan kedaulatan dan merelakan negerinya “hilang” menjadi bagian negara baru yaitu NKRI. Namun Sultan HB IX (bersama ketiga penguasa pecahan kerajaan Mataram lainnya di Yogyakarta dan Surakarta/DIS) melakukan pelbagai persuasi, memberi contoh merelakan negerinya bergabung dengan NKRI, menjadi tokoh “Republiken” terkemuka dan membiayai APBN awal kemerdekaan. Saat krisis 1966 kejatuhan Sukarno, beliau keliling dunia untuk menggalang investasi di Indonesia.

Raja Rehabeam lahir dan besar dalam kemapanan, kemakmuran dan puncak popularitas Israel. Ayahnya, raja Salomo yang penuh hikmat tidak pernah tercatat memberikan didikan bahkan visi kenegaraan dan rohani kepada anak-anaknya seperti Daud ayahnya. Rehabeam yang arogan dan ceroboh membuang nasehat dari tua-tua pendamping ayahnya dan mempercayai teman-teman sebayanya yang miskin pengalaman dan buta wawasan sosial politik serta spiritual (ay 8). Rehabeam memerintah tanpa visi, lalu Israel terpecah dua sesuai nubuat nabi Ahia. Dia memerintah suku Yehuda (plus Benyamin) “hanya” sebagai bentuk pemenuhan janji Tuhan bagi Daud yang akan menurunkan raja-raja bahkan selamanya (dalam diri Yesus Kristus, Raja di atas segala raja yang berkuasa kekal selamanya). Saran para tua-tua untuk menjadi “Raja yang Melayani” diabaikan dan makin sombong (ay 9 dst). Ternyata konsep Servanthood Leadership sudah diwacanakan di jaman cucu Daud.

Dalam perspektif PB Yesus mengingatkan bahwa siapa yang ingin menjadi pemimpin terkemuka harus menjadi pelayan (Lukas 22: 26). Hal ini membawa konsekuensi luas dan dalam. Keinginan menjadi pemimpin tidak salah, namun motivasi itu dikuduskan dengan cara merendahkan diri. Mari kita menguji seberapa kerendahan hati kita. Seberapa ingin dan seberapa senang kita dipuji, dihormati dan didahulukan. Itulah parameter pemimpin yang belum siap melayani. Mari kita membenahi diri dalam setiap tataran kepemimpinan dengan memurnikan semua motivasi dalam pimpinan Roh Kudus.

Inspirasi: Kepemimpinan identik dengan pengaruh, dan pengaruh dilandasi kerendahan hati.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd

share

Recommended Posts