KASIHILAH SESAMAMU

KASIHILAH SESAMAMU

Imamat 19:18; Matius 22:39

 

Imamat 19:18 adalah perintah utama dalam Perjanjian Lama yang melarang dendam dan menuntut kasih aktif terhadap sesama. Ayat ini berbunyi, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN,” Perintah ini melarang umat-Nya menyimpan dendam dan melakukan balas dendam terhadap seseorang atau anggota komunitas (sesama manusia). Sebaliknya umat-Nya diperintahkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri atau dengan kata lain memberikan kebaikan, kepedulian, dan keadilan yang sama dengan yang kita inginkan bagi diri kita sendiri.

Dasar perintah ini adalah “Akulah Tuhan.” Satu frasa yang menegaskan bahwa perintah ini berakar pada karakter Allah dan perjanjian-Nya dengan umat-Nya, yang menuntut hidup kudus. Allah adalah kasih, oleh sebab itu umat-Nya seharusnya juga memiliki sifat dasar kasih. Mengasihi itu bukan sekedar perasaan yang dilakukan berdasarkan suasana hati tetapi karena itulah diri kita sebagai manusia yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah.

Yesus Kristus menegaskan ayat ini sebagai salah satu dari dua hukum yang paling utama, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dua hukum kasih ini merangkum seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:37-39). Semua ritual dan kebaikan agama menjadi kehilangan makna jika dua hukum ini tidak ditaati. Yesus menegaskan ulang bahwa perintah mengasihi sesama memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan mengasihi Tuhan, dan keduanya harus berjalan beriringan. Mengasihi sesama memiliki standar yang sama dengan mengasihi diri sendiri. Berarti mengasihi orang lain seharusnya memiliki tingkat kepedulian, penghormatan, dan pengampunan yang sama seperti kita merawat, melindungi, dan mengampuni diri sendiri.

Kita bisa menaati perintah Tuhan ini dengan belajar berempati dan peduli sesama, aktif memperhatikan, menolong, dan memenuhi kebutuhan orang lain, tidak egois. Menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan latar belakang, suku, atau agama, terutama dalam masyarakat majemuk. Melepaskan pengampunan dan tidak menyimpan kebencian atau membalas perlakuan buruk orang lain serta tidak menghakimi. Mengasihi juga bisa diwujudkan melalui pelayanan, perbuatan baik, dan kata-kata yang membangun, bukan hanya perasaan.

 

(KB/FEBR/2026)

share

Recommended Posts