MENYIKAPI KECAMAN

Firman Tuhan : Amsal 9:1-12
“Jangan mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya.” (Ams. 9:8)
Pengamsal memberitahu ada dua macam sikap terhadap suatu kecaman: sikap seorang pencemooh dan sikap orang bijak. menyikapi kecaman. Pencemooh (scoffer) menyikapi kecaman dengan kebencian, sementara orang bijak (wise man) menyikapi kecaman dengan kasih. Dalam konteks politik, kecaman sering terdengar, apakah itu dari tokoh atau kelompok tertentu, tentang policy seorang pejabat atau pemerintah. Dalam konteks akademis, kata “kritik” sangat melekat dalam perdebatan-perdebatan ilmiah. Bahkan dalam konteks pelayanan; kritik, teguran, kecaman atau koreksi, juga tak terelakkan.
Yang menjadi soal, bukan kecaman atau kritikan itu sendiri, sebab hal itu akan selalu ada dalam dunia yang imperfect (tidak sempurna) ini. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya. Coba perhatikan bagaimana sikap kaum Farisi dan ahli Taurat ketika dikecam Yesus, bukannya diam dan mendengar, malah berbalik mencemooh bahkan mau menangkap-Nya. (Lukas 11:37-54). Jadi apa yang dikatakan oleh pengamsal, terbukti. Coba lihat lagi Stefanus (Kis. 7), ia benar-benar mengecam, para pemimpin Yahudi. Setelah ia menguraikan panjang lebar tentang perilaku Israel dalam sejarah, yang tidak taat kepada Allah, ia pun langsung mengecam para pendengarnya, dengan menyebut mereka keras kepala (Kis.7:51- 53). Bukannya diam dan mendengar, malah langsung tersinggung (merasa tertusuk hatinya), lalu menyeret, dan melempari Stefanus dengan batu. Ketika dikritik, bukannya pakai akal sehat, malah pakai batu (ay. 54-58).
Dalam kehidupan Kristen, apakah dalam keluarga, atau dalam pelayanan, tatkala emosi menjadi dominan, maka seringkali akal sehat tidak berfungsi. Pernah suatu hari, ada dua hamba Tuhan, entah siapa pemicunya, terjadi pertengkaran sengit, di dalam suatu pertemuan dosen dan mahasiswa di sebuah kampus. Menyedihkan, karena bagaimana mungkin kedua-duanya lepas kendali? Jika salah satu cukup sabar dan rendah hati, maka perang mulut itu pun berhenti. Akhirnya mereka bisa akur, namun telah mengukir kesan negatif di hati orang lain. Tidak mengherankan kalau Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Efesus (4:2), menekankan pentingnya rendah hati, lemah lembut dan sabar. Ini suatu peringatan antisipatif, untuk dapat meredam potensi konflik, yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Mengapa? Ini sangat koheren dengan apa yang dikatakannya dalam pasal 3:21; agar kemuliaan Kristus ada di dalam kehidupan jemaat. Sikap itu (rendah hati, lemah lembut dan sabar) sangat diperlukan, di saat menerima teguran ataupun kecaman. Baik dalam keluarga ataupun tim, semua harus sadar, bahwa di tengah kesibukan pelayanan, “konflik” pun suka mengintip. Di mana ada celah, di sanalah dia masuk. Belajar dari Petrus yang siap dikecam, karena memang dia salah (Gal.2:11-14). Kita harus jujur bahwa kita bisa lemah (susah dikoreksi), dan karena itu perlu mohon Roh Kudus terus menguasai kita, untuk lebih rendah hati, lemah lembut dan sabar.
Inspirasi: Bagi orang rohani, setiap kritik adalah kekuatan, tapi bagi orang yang duniawi, kecaman itu adalah ancaman.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

MENYIKAPI KEGAGALAN
Februari 08, 2026

MENYIKAPI KEBERHASILAN
Februari 07, 2026

Iman Di Tengah Ombak
Februari 06, 2026

