MENYIKAPI PUJIAN    

MENYIKAPI PUJIAN    

Firman Tuhan    : Amsal 27:1-6

“Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri.” Amsal 27:2

 

Seorang pengkhotbah terkenal pernah berkata, “Tolong jangan puji saya. Jika anda memuji saya, berarti anda tidak mengasihi saya. Kamu kan tahu, saya pasti senang kalau dipuji. Tetapi akibatnya saya jadi sombong, menganggap diri hebat. Jadi kalau saudara mengasihi saya, tolong jangan puji saya.” Ini sikap yang unik, bukan? Karena biasanya orang senang dipuji.

Di sini, pengamsal, mungkin juga raja Salomo (25:1), menunjukkan suatu sikap yang terpuji, bahwa biarlah orang memuji kita, tetapi jangan diri sendiri. Kalau pujian itu tulus (objektif), tentu saja itu tidak masalah. Tetapi sebagai seorang manusia biasa, dia tentu sadar dan waspada, karena di sana ada potensi godaan kesombongan. Dalam banyak kasus, pujian yang bermotif negatif (menjilat), banyak kali menjerumuskan orang. Bagi orang yang hidupnya dikuasai Roh Kudus, selalu berusaha untuk waspada dengan kata-kata sanjungan atau pujian orang (cf. Ef. 5:18, 21). Jadi bagi Salomo, kalaupun orang memuji, biarkan saja, itu adalah ekspresi mereka, asalkan bukan diri sendiri. Ini berat! Mungkin di antara seratus, hanya satu dua yang bisa bertahan pada integritasnya (tetap rendah hati) . Ada seorang bapak, yang secara materi cukup kaya, kalau orang berterima kasih atas perhatiannya, ia selalu menunjuk ke atas (dengan jari telunjuknya), maksudnya semuanya karena Tuhan, yang patut dipuji.

Dalam konteks pelayanan tim, pujian adalah salah satu yang sering diterapkan, terutama bagi mereka yang sedang menunjukkan progress yang signifikan. Sebuah artikel mengatakan, “Dari perspektif psikologis, pujian adalah alat motivasi kuat yang meningkatkan kepercayaan diri, harga diri dan kinerja, dengan memperkuat perilaku positif.” Dari perspektif rohani, itu bisa bermakna memperkuat motivasi seseorang untuk mempermuliakan nama Tuhan (Kol.3:23). Menyoroti soal ini, khususnya dalam konteks kepemimpinan, John Maxwell menulis, “Don’t brag! (vv. 1-2) – Leaders understand how little they get from self-promotion.” Jangan terlalu bangga diri. “Para pemimpin harus paham bahwa, betapa sedikit yang ia peroleh dari promosi diri sendiri.”

Bagaimana kita menyikapi pujian orang? Belajarlah dari Yusuf, yang sangat jauh dari perasaan bangga diri, sehingga atmosfir kasih dan kerendahan hatinya itu, menutupi segala kesalahan saudara-saudaranya (Kej. 50:15-21; 1 Kor.13:7). Kalau dia haus pujian, dia sudah meladeni permintaan saudara-saudaranya, menjadikan mereka budaknya. Namun sikap itu tidak ada di hatinya sama sekali (Kel.50:18-19). Apakah kita bisa belajar seperti Yusuf? Sering orang berkata: “To God be the glory!” Benarkah?

Inspirasi: Untuk bisa lulus dari godaan menjadi bangga diri, merupakan suatu ujian berat bagi setiap orang percaya, yang mau belajar rendah hati.

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts