Berbahagialah Yang Diundang

Bacaan Firman : Wahyu 19:9-10
Lalu ia berkata kepadaku, “Tuliskanlah : Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba”. Katanya lagi kepadaku, ” Perkataan ini benar, perkataan dari Allah.”– Wahyu 19:9 TB 2
Ayat ini merupakan bagian dari visi yang diberikan kepada Rasul Yohanes tentang kemenangan Kristus dan sukacita umat-Nya di akhir zaman. “Perjamuan kawin Anak Domba” melambangkan persatuan antara Kristus (Anak Domba) dengan gereja-Nya, yang digambarkan sebagai mempelai wanita. Ini adalah gambaran sukacita kekal, di mana semua orang percaya akan berkumpul dalam hadirat Tuhan dan menikmati kebahagiaan tanpa akhir. Namun, undangan ini bukan untuk semua orang secara otomatis, melainkan bagi mereka yang telah hidup dalam iman dan kesetiaan kepada Kristus. Kalimat “Berbahagialah mereka yang diundang” menegaskan bahwa mereka yang menerima undangan ini adalah orang-orang yang beroleh kasih karunia Tuhan. Namun, sebagaimana dalam perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin (Matius 22:1-14), tidak semua orang yang diundang merespons dengan benar. Ada yang menolak, ada yang mengabaikan, dan ada yang datang tetapi tidak dengan hati yang benar. Ini menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah anugerah, tetapi membutuhkan respons dari setiap individu.
Dalam kehidupan ini, kita sering kali sibuk dengan berbagai urusan duniawi—pekerjaan, keluarga, ambisi pribadi—hingga lupa bahwa ada sesuatu yang lebih penting: hati yang bersih dan hubungan yang baik dengan Tuhan serta sesama. Salah satu bentuk kesiapan untuk menerima undangan Tuhan adalah dengan hidup dalam kasih dan saling memaafkan. Seberapa sering kita tanpa sadar menyakiti orang lain? Mungkin melalui perkataan yang kasar, sikap yang dingin, atau tindakan yang mengecewakan. Pasangan, anak-anak, saudara, sahabat—mereka semua adalah bagian dari kehidupan kita, tetapi sering kali kita lebih mudah melukai mereka daripada mencintai mereka dengan tulus. Jika kita ingin hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, kita juga harus menjaga persekutuan dengan sesama. Tidak ada gunanya merasa dekat dengan Tuhan jika hati kita masih penuh kebencian, dendam, atau kesombongan.
Dalam tradisi umat Muslim, perayaan Idul Fitri menjadi momen untuk saling meminta maaf. Mereka saling mengulurkan tangan berjabat tangan untuk menghapus kesalahan masa lalu, dan memperbaiki hubungan yang mungkin telah retak. Sebagai umat Kristiani, kita pun diajarkan untuk hidup dalam rekonsiliasi. Tuhan sendiri telah mengampuni dosa-dosa kita, maka mengapa kita masih sulit untuk mengampuni sesama? Jangan menunggu sampai semuanya terlambat. Jika ada orang yang pernah kita sakiti—pasangan kita, anak-anak, saudara, sahabat—maka sekaranglah saatnya untuk memperbaiki hubungan itu.
Kita tidak tahu sampai kapan kesempatan untuk meminta maaf dan memberi maaf masih ada. Jangan sampai kesombongan membuat kita kehilangan damai sejahtera, dan jangan sampai kita menyesal ketika semuanya sudah terlambat. Tuhan ingin kita hidup dalam damai, bukan hanya dengan-Nya, tetapi juga dengan sesama. Jika kita ingin menerima undangan ke perjamuan kekal, marilah kita mulai dengan membersihkan hati dari dendam dan kesombongan. Memaafkan dan meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, tetapi justru menunjukkan bahwa kasih lebih besar daripada ego.
Mengulurkan tangan untuk meminta maaf atau memberi maaf bukan tanda kelemahan, tetapi bukti bahwa kasih lebih kuat dari kebanggaan diri.
TIM WEB
Recommended Posts

Berkat dalam Memberi
April 03, 2025

Mengampuni & Percayakan Keadilan-Nya
Maret 31, 2025

Sukacita Yang Kembali
Maret 29, 2025