BERUSAHA SETIA

BERUSAHA SETIA
Bacaan : Amsal 3:34
Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu,
tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.” (Amsal 3:34)
 

Kesetiaan orang percaya didasarkan kepada kesetiaan Allah yang telah bekerja di dalam
kehidupannya. Dalam 2 Timotius 2:13, Paulus menulis, “Jika kita tidak setia, Dia tetap
setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.” Kesetiaan Allah kepada janjijanjiNya
memastikan keselamatan umatNya meskipun mereka sering gagal. John Calvin mengatakan
bahwa kesetiaan Allah adalah inti dari hubungan perjanjian. Meskipun umatNya sering
gagal memenuhi tanggung jawab perjanjian, Allah tetap memegang teguh janjiNya.

Setia dalam Perjanjian Lama menggunakan kata ‘emunah’ yang artinya kokoh, secara
kiasan berarti aman, loyal, setia dan penuh iman. Karena itu mustahil bila seseorang dapat
kokoh atau konsisten jika tak dipenuhi dengan iman dan pengharapan. Tuhanlah yang
menggambarkan dirinya sendiri sebagai Tuhan yang kokoh, tidak berubah. Dalam Perjanjian
Baru kata ‘pistos’ digunakan untuk menggambarkan seseorang yang layak dipercayai.

Dalam perenungan kita hari ini; Amsal 3:34 mengajarkan kita tentang pentingnya kesetiaan
dalam kehidupan kita. Kesetiaan digambarkan sebagai sesuatu yang harus selalu melekat
pada diri kita, seperti kalung yang melingkar di leher dan tulisan yang terukir di hati.
Kesetiaan bukan hanya tentang menjaga janji atau komitmen, tetapi juga tentang
konsistensi dalam menjalani hidup sesuai dengan prinsipprinsip kebenaran dan kasih
seperti yang Tuhan ajarkan. Ini mencakup kesetiaan kepada Tuhan, kepada sesama, dan
kepada diri sendiri. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kesetiaan membawa dampak positif.
Ketika kita setia, kita akan mendapatkan kasih dan penghargaan, bukan hanya dari
manusia, tetapi juga dari Allah.

Inspirasi:
Saudara, mari kita menjadi pribadipribadi yang senantiasa berusaha untuk setia.
Menjadi hamba yang setia melayani Tuhan, menjadi suami atau istri yang setia terhadap
pasangannya, menjadi murid yang setia, dan lain sebagainya. Di akhir renungan ini saya
ingin memberikan sebuah kalimat bijak yang bunyinya: “Orang yang setia pasti punya
perasaan yang tulus. Pancaran hatinya membuat mereka selalu terlihat bersinar
 
LPMI/ Iyan Satar
share

Recommended Posts