DAMAI DI MALAM NATAL

DAMAI DI MALAM NATAL

Firman Tuhan    : Lukas 2 :9 – 11

“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.” (Lukas 2 : 10)

 

Di banyak tempat di Indonesia, sejak bulan September, orang sudah mulai memutar lagu2 Natal. Apalagi di Indonesia bagian timur, mulai dari angkutan kota, toko-toko  di  mall  dan  rumah-rumah,  suasana  Natal  sangat  terasa.

Pada malam Natal yang sunyi di tahun 1818, di sebuah gereja kecil di Oberndorf, Austria, seorang pendeta muda bernama Joseph Mohr merasa sedih karena organ gereja mereka rusak. Ia khawatir perayaan Natal tanpa musik akan terasa hampa. Namun di tengah keterbatasan itu, ia membawa sebuah puisi yang ia tulis dua tahun sebelumnya kepada sahabatnya, Franz Gruber, seorang guru dan pemain musik. Dalam waktu singkat, Gruber menggubah melodi sederhana untuk puisi itu yang dapat dimainkan dengan gitar.

Malam itu, di gereja kecil yang gelap dan dingin, untuk pertama kalinya terdengarlah lagu “Stille Nacht, Heilige Nacht”, (“Malam Kudus, Sunyi Senyap”). Bukan musik megah yang menggema, melainkan nada lembut yang menyentuh hati. Di tengah kesunyian dan kekurangan, hadir damai yang sejati, damai yang datang dari Kristus yang lahir di palungan.

Lagu itu lahir bukan dari kelimpahan, tetapi dari kesederhanaan dan iman. Begitu pula Natal yang sejati tidak tergantung pada gemerlap lampu atau hadiah besar,  melainkan  pada  hadirnya  Yesus  di  hati  yang  terbuka. Di tengah kesunyian dunia yang penuh kegelisahan, biarlah kita mendengar lagi bisikan lembut dari surga: “Tuhan Yesus telah lahir. Damai sejahtera telah datang.”

Inspirasi : Mari kita rayakan Natal tahun ini bukan dengan kebisingan, kemeriahan pesta atau hura-hura duniawi, namun dengan hati yang bersyukur dan damai, seperti malam kudus itu, ketika dunia yang gelap diterangi oleh terang kasih Allah.

LPMI/Wilfred Soplantila

share

Recommended Posts