Diperbarui Tiap Hari

Diperbarui Tiap Hari

Bacaan : II Korintus 4:16-5:5

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. 2 Korintus 4:16 TB2

 

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita merasa lelah secara fisik maupun batin. Ada banyak hal yang bisa membuat hati mudah tersulut amarah: ketidakadilan, ucapan yang melukai, sikap orang yang menjengkelkan, atau situasi yang terasa tidak berpihak. Terkadang, kita merasa seolah-olah tenaga dan kesabaran telah habis, dan amarah seperti menjadi jalan keluar tercepat untuk melampiaskan rasa kecewa dan frustrasi. Namun, Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:16 mengingatkan kita, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari.” Ini bukan sekadar ungkapan penguatan, tetapi sebuah kebenaran rohani yang mendalam, bahwa di balik kelemahan fisik dan emosi kita, ada pembaruan yang Tuhan kerjakan setiap hari dalam batin kita.

Paulus sendiri tidak menulis kata-kata ini dalam kenyamanan, melainkan di tengah penderitaan yang nyata. Ia mengalami tekanan yang berat dalam pelayanan, mengalami fitnah, penolakan, bahkan ancaman kematian. Tubuhnya semakin melemah, namun ia tidak kehilangan semangat karena ia tahu bahwa ada kekuatan yang terus mengalir dari Allah untuk memperbarui manusia batiniahnya. Dalam teks aslinya, kata “dibaharui” (anakainoutai) menunjukkan proses yang berkelanjutan, bukan sesuatu yang terjadi sekali lalu selesai. Artinya, setiap hari ada kesempatan baru bagi Allah untuk menguatkan hati kita, membentuk karakter kita, dan menumbuhkan penguasaan diri dalam hidup kita.

Hal yang sama berlaku bagi kita hari ini. Ketika kita menghadapi orang-orang yang membuat kita marah, ketika situasi memancing emosi kita untuk meledak, di sanalah Allah ingin memperbarui kita. Kita diajak untuk tidak membiarkan manusia lahiriah kita yang lemah dan mudah marah itu menguasai, tetapi memberi ruang bagi manusia batiniah yang terus diperbarui oleh kasih dan kuasa Roh Kudus. Menahan marah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa kita sedang dilatih untuk kuat oleh Tuhan. Sikap sabar dan penguasaan diri adalah buah dari proses pembaruan itu—buah dari Roh yang hidup dalam diri kita.

Maka, saat amarah mulai memuncak, cobalah berhenti sejenak dan tarik napas panjang. Katakan dalam hati, “Tuhan, perbarui hatiku hari ini.” Sadari bahwa setiap momen ketika kita berhasil menahan diri, itulah momen kita menang atas diri sendiri dan semakin serupa dengan Kristus. Bukan karena kuat dan hebatnya kita, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam kita, memperbarui kita dari hari ke hari. Karena itu, jangan pernah lelah untuk melatih hati, meskipun kita merasa sulit dan berat. Tuhan tahu kelemahan kita, dan Ia tidak meminta kita sempurna dengan kekuatan sendiri. Ia memberikan Roh-Nya sebagai penolong, supaya kita mampu bertahan, tetap sabar, dan memilih untuk mengasihi, bukan membenci; menenangkan, bukan meluapkan amarah.

 

TIM WEB

 

share

Recommended Posts