Hidup Minimalis dalam Kasih Tuhan

Bacaan : Yeremia 3:19-25
Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, Aku akan menyembuhkan engkau dari kemurtadanmu. Inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami. ( Yeremia 3:22 TB 2 )
Awal tahun menjadi momen istimewa bagi keluarga kami untuk memulai kebiasaan baru. Setelah lama merasa rumah penuh sesak dengan barang-barang tak terpakai, kami memutuskan untuk membersihkan rumah dan mengurangi segala hal yang sudah tidak berguna. Ide ini berawal dari kesadaran bahwa banyak barang di rumah yang hanya menumpuk tanpa memberikan manfaat.
Pagi itu, kami bersiap untuk “operasi bersih-bersih.” Setiap sudut rumah menjadi target. Mulai dari lemari pakaian yang penuh dengan baju yang tak pernah dipakai, hingga gudang yang dipenuhi peralatan lama dan mainan anak-anak yang sudah usang. Sambil memilah, kami berbicara tentang barang-barang itu. “Pakaian ini terlalu kecil untuk dipakai,” kata si sulung. “Mainan ini rusak, tapi aku suka kenangannya,” tambah si bungsu sambil memeluk boneka tua. Sebagai orang tua, kami menjelaskan, “Barang ini memang pernah berarti, tetapi sekarang waktunya memberi ruang untuk hal-hal baru. Kenangan tetap ada di hati, bukan di barang.”
Proses ini membuat kami teringat pada firman Tuhan dari Yeremia 3:22:
Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, Aku akan menyembuhkan engkau dari kemurtadanmu. Ayat ini mengingatkan kami bahwa sering kali, seperti barang-barang yang menumpuk, hati kami pun penuh dengan hal-hal yang menghalangi kasih Tuhan. Mungkin dosa, rasa iri, atau ambisi duniawi yang tak perlu. Tuhan memanggil kita untuk “membersihkan” hati, meninggalkan hal-hal yang menjauhkan kita dari-Nya, dan kembali pada kasih-Nya.
Gaya hidup minimalisme tidak hanya soal mengurangi barang, tetapi juga tentang menyederhanakan hidup dan fokus pada yang benar-benar penting. Dalam proses ini, kami belajar bahwa melepaskan barang-barang tak terpakai adalah langkah simbolis untuk melepaskan keterikatan duniawi yang sering kali menjadi berhala modern. Nat hari ini, kita belajar bahwa seruan Tuhan untuk meninggalkan berhala dan kembali kepada-Nya bisa diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari, termasuk cara kita melepaskan barang-barang yang tidak berguna.
Berhala modern tidak selalu berupa patung, tetapi bisa berupa keterikatan pada hal-hal yang mengalihkan fokus kita dari Tuhan
TIM WEB
Recommended Posts

The Living Waters
April 05, 2025

Kewargaan Surga
April 04, 2025

Berkat dalam Memberi
April 03, 2025