Hidup untuk Dia

Hidup untuk Dia

Bacaan: 2 Korintus 5:14-15


“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”

 

Waktu kecil, saya sering mendapatkan pembagian tugas dari orang tua di rumah. Ada hari-hari di mana saya harus menyapu halaman, mencuci piring, atau merapikan kamar. Jujur saja, tidak selalu saya mengerjakannya dengan sukacita. Ada kalanya saya mengeluh, menunda, atau berharap orang lain saja yang melakukannya. Namun, orang tua saya dengan sabar terus mengingatkan, “Kalau bukan kita yang merawat rumah ini, siapa lagi?”

Pengalaman masa kecil itu kini menjadi cermin bagi saya sebagai orang tua. Saat saya mencoba menerapkan hal yang sama kepada anak-anak, saya pun melihat respons serupa dari mereka—enggan, menunda, atau mengeluh. Namun, saya mengerti, tugas sederhana di rumah sebenarnya membentuk karakter tanggung jawab, kepedulian, dan kebersamaan.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:14-15 mengingatkan kita bahwa kasih Kristus yang menguasai hati kita seharusnya menjadi dorongan utama dalam hidup kita. Paulus menulis bahwa kasih itu mendorong, bahkan mendesak kita, bukan karena kewajiban, melainkan karena kesadaran bahwa hidup kita telah ditebus oleh Kristus. Ia telah mati dan bangkit bagi kita, agar hidup kita tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan bagi Dia yang telah menyelamatkan kita.

Dalam konteks sehari-hari, kasih Kristus itu seharusnya nyata dalam tindakan sederhana, termasuk dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang sering kali kita tunda. Mungkin kita menganggap menyapu, mencuci piring, atau membereskan rumah adalah tugas kecil yang kurang berarti. Namun, bagi orang yang hidup dikuasai kasih Kristus, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil. Segala sesuatu yang kita lakukan, bahkan di ruang paling pribadi seperti rumah kita sendiri, bisa menjadi bentuk pelayanan dan kasih kepada Tuhan dan sesama.

Menunda pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab kita sering kali mencerminkan kecenderungan menunda tugas-tugas lain dalam hidup ini. Padahal, Kristus tidak pernah menunda saat Ia harus menyelamatkan kita. Ia segera bertindak, mengambil rupa manusia, dan menggenapi karya keselamatan di kayu salib. Jika kita mengaku hidup oleh kasih-Nya, mengapa kita menunda untuk bertindak, meskipun dalam hal-hal sederhana?

Hari ini, mari kita belajar untuk menyelesaikan setiap tugas yang Tuhan percayakan kepada kita, sekecil apa pun itu. Dimulai dari rumah, dari pekerjaan yang tertunda, dari tanggung jawab sehari-hari yang tampaknya biasa. Karena hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Dia yang telah menebus dan menghidupkan kita oleh kasih-Nya.

 

 

TIM WEB

share

Recommended Posts