LEBIH KOLABORATIF LAGI

LEBIH KOLABORATIF LAGI

Bacaan : Efesus 6:21-24
“Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ikwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang
kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada
kamu.” (Efesus 6:21)

 

Kita tidak tahu apa yang terjadi, apabila sejumlah robot pintar dikumpul untuk melakukan
suatu pekerjaan bersama. Mungkinkah? Takutnya, bisa lebih efisien dan efektif dari
manusia, bukan? Sebab “mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI)
memungkinkannya untuk bisa belajar, beradaptasi, berinteraksi dengan lingkungannya.”
(google.com). Manusia (pembuat AI), seharusnya jauh lebih hebat daripada robot
ciptaannya, ia bukan cuma punya akal, tetapi juga punya hikmat, sehingga ia lebih mampu
bekerjasama (co-laborative) dengan baik. Sehebat-hebatnya AI, tidak pernah akan ada
sebutan AI Kristen. Mengapa? Sekali lagi itu hanyalah mesin, bukan pribadi.

Dari catatan Paulus pada bagian akhir suratnya (Efesus) ini, ia menyebutkan seseorang pribadi yang bernama Tikhikus, yang disebutnya sebagai saudara yang kekasih, pelayan yang setia di dalam Tuhan…” Jadi jelas Tikhikus adalah seorang pribadi (bukan AI), dengan siapa Paulus bekerjasama dalam pelayanan. Paulus tidak suka bekerja sendiri. Ia banyak mendorong orang lain untuk bekerja dan berjuang bersama bagi Tuhan. Warren Wiersbe melihat bagian ini sebagai berikut: “KIta tidak berjuang di medan perang seorang diri. Ada orang Kristen lainnya yang berdiri bersama dengan kita dalam perjuangan itu, dan kita harus memberi dorongan. Paulus memberikan dorongan kepada jemaat Efesus; Tikhikus merupakan suatu dorongan bagi Paulus (Kis.20:4); dan Paulus akan mengutus Tikhikus ke Efesus untuk memberikan dorongan kepada mereka. Sungguh merupakan suatu dorongan yang besar menjadi bagian dari keluarga Allah! Di dalam Perjanjian Baru kita tidak menemukan orang Kristen terisolir. Orang-orang Kristen seperti domba; mereka berkumpul bersama-sama. Jemaat merupakan pasukan tentara dan para prajuritnya perlu berdiri bersama-sama dan bertempur bersama-sama.”

Masalah yang yang sering terjadi dalam pelayanan adalah kesalahan dalam manajemen,
khususnya dalam pengorgnisasian (organizing). Ada gaya kepemimpinan yang single fighter, sehingga tidak melibatkan orang lain (kekuatan mereka) secara maksimal. Sebaliknya ada
pula gaya terlalu delegatif, sementara sang pemimpin sendiri tidak aktif. Nehemia berbeda,
Ia tidak hanya mempercayakan (mendelegasikan) tugas, tetapi juga bekerja bersama-sama.
Ia melibatkan orang lain yang punya visi. Akhirnya keperjaannya itu dapat selesai dalam 52
hari. Kolaborasi yang baik sangat jauh berbeda hasilnya. Apakah kita perlu lebih
kolaboralatif lagi di tahun yang baru ini?

Inspirasi: Berkolaborasi bukanlah untuk saling merugikan, tetapi untuk saling menguntungkan. Bukanuntuk saling mengambil sesuatu, tetapi untuk saling memberi dan melengkapi. Bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi bersama.

 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts