LEBIH KOMUNIKATIF LAGI

Bacaan : Efesus 5:22-33
“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk pada Kristus demikian jugalah istri kepada suami
dalam segala sesuatu.” (Efesus 5:24)
Begitu pentingnya komunikasi, sampai dalam satu negara pun ada kementerian komunikasi.
Komunikasi yang sehat dan membangun menjadi ukuran bagi suatu negara atau komunitas.
Rupanya rumah tangga atau keluarga Kristen dapat menjadi contoh yang paling tepat jika
berbicara soal komunikasi. Sebab sebagai lembaga masyarakat terkecil, di sana ada
komunikasi yang aktif antara anggotanya, mulai dari suami istri, orang tua dan anak,
termasuk majikan dengan hamba-hambanya. Bahkan komunikasi antara suami istri itu
merupakan gambaran hubungan Kristus dan gereja-Nya. Sungguh indah dan mulia. Tetapi
bagaimana kenyataannya? Malah komunikasi dalam rumah tangga Kristen banyak menjadi
sorotan karena banyak masalahnya.
Apakah ketika Paulus menulis, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu..” (ay.22), karena ia
menemukan adanya miskomunikasi antara suami istri? Atau apakah itu untuk
menggambarkan hubungan Kristus dan jemaat? Bila dikaitkan dengan ayat 21 di sana ia
bicara soal pentingnya belajar rendah hati satu sama lain, maka mungkin saja ada potensi
konflik yang bisa terjadi, karena pada dasarnya kejatuhan manusia ke dalam dosa, justru
terjadi dalam rumah tangga perdana itu (Kej. 3). Ryrye menulis, “Istri tunduk pada
kepemimpinan suaminya di dalam rumah tangga (22, 24), menghormati dan menghargai
suaminya (33), mengasihi suaminya (Tit. 2:4), dan hidup bersama suaminya sampai ajal
(Roma 7:2-3).” Jadi Paulus berharap komunikasi yang sehat dalam keluarga Kristen itu,
merambat ke dalam komunitas yang lebih luas. Keluarga Kristen sebagai gereja miniatur,
memang seharusnya memberi pengaruh, baik ke dalam lingkup komunitas gerejawi,
maupun komunitas pelayanan. Repotnya, jika yang terjadi adalah sebaliknya, di mana
perilaku hubungan dalam keluarga Kristen dan gereja telah kehilangan pengaruh itu.
Bukankah keluarga Kristen dan gereja seharusnya inklusif dalam membangun komunikasi,
karena memang mereka dipanggil ke dalam dunia?
Kita sekarang memiliki berbagai alat komunikasi untuk kehidupan, pekerjaan dan pelayanan
misi kita (high-tech). Namun jangan kita lupa; diri kita sendiri, keluarga kita, setiap orang
percaya, adalah merupakan instrument (alat) di tangan Tuhan, untuk lebih aktif lagi
membangun relasi dengan siapapun (high-touch), demi Amanat Agung-Nya. Mungkin tekad
kita di tahun ini adalah mau lebih progresif lagi dalam berkomunikasi, mulai dari keluarga
kita sampai ke komunitas masyarakat yang lebih luas. Mungkinkah itu terjadi?
Inspirasi: Komunikasi yang tidak komunikatif, bukan saja suatu opini, tetapi suatu
kenyataan. Yang berkomunikasi sebenarnya bukanlah alat atau mesin, tetapi pribadi
manusia itu sendiri.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

Kewargaan Surga
April 04, 2025

Berkat dalam Memberi
April 03, 2025

Berbahagialah Yang Diundang
April 01, 2025