LEBIH KONSOLIDATIF LAGI

LEBIH KONSOLIDATIF LAGI
Bacaan : Efesus 4:1732
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling
mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kami.” (Efesus 4:32)
 

Siapa yang tidak kagum dengan menara Eifel yang tingginya 330 meter, di tengah kota Paris
itu? Tourist yang memang bertujuan ke menara itu, mungkin bukan saja melihatlihat tetapi
ia pasti bertanyatanya, soal seluk beluk menara itu. Mungkin salah satunya ia akan
menyelidiki siapa orangorang yang membangunnya. Bukan mustahil, di balik megahnya
konstruksi yang hebat itu, ada banyak masalah yang terjadi di antara para pekerjanya, yang
harus diatasi.

Dalam konteks pembangunan menara rohani gereja Tuhan di Efesus, Paulus melihat sangat
pentingnya sikap yang ramah (be kind to one another), penuh kasih mesra (tender
hearted), dan saling mengampuni (forgiving each other). Apa yang terjadi kalau para
pekerja tidak akur, tidak tegur sapa, tidak saling mengasihi? Belum lagi kalau terjadi
kesalahpahaman, berkembanglah konflik, dan akhirnya tidak ada saling mengampuni. Saya
pernah memperhatikan ada seorang tukang, ketika ia mencampurkan semen dan pasir, ia
menyingkirkan beberapa potongan serpihan kayu yang kecil, daun kering, dan kerikil yang
agak besar, yang tercampur di situ. Saya berpikir apa pengaruhnya? Tapi bagi dia itu harus
disingkirkan. Sama halnya dengan halhal negatif yang bisa menggangu keutuhan pelayanan.
Atmosfir yang tidak sehat itu akan mempengaruhi pekerjaan konstruksi pelayanan. Kalau
tidak, maka rasanya bangunan sudah runtuh sebelum dimulai. Jadi jelas bahwa faktor
personal (sikap hati) harus dibenahi lebih dahulu. Jika sikap hati tidak dibentuk, maka
segala pengetahuan dan ketrampilan seseorang akan tidak diberdayakan secara maksimal.

Banyak masalah dalam pelayanan kita masa kini, hanya karena relasi sosial yang tidak sehat.
Ada yang menyebut masa ini sebagai zaman egoisme atau individualistis. Apakah
keramahtamahan masih dapat ditemukan? Apakah kasih mesra masih ada? Dan apakah saling
mengampuni masih terasa? Seharusnya jawabannya adalah Ya! Di mana? Di dalam gereja
atau komunitas persekutuan Kristen, termasuk lembaga misi pelayanan. Namun
kenyataannya bagaimana? Yang tampak hanyalah sikap careless (tak peduli), bukannya
kasih mesra, malah komunikasi menjadi dingin. Apalagi saling mengampuni, lebih susah
lagi. Pernah ada dua ibu dalam sebuah gereja, karena soal sepele akhirnya konflik, tahan
tidak bicara satu sama lain selama bertahuntahun. Ketika bertemu, jangankan tegur sapa,
senyum pun kecut. Ini namanya perilaku destruktif. Bagaimana dengan kita di tahun yang
baru ini? Apakah sikap kita lebih konstruktif atau destruktif?

Inspirasi: Mengharapkan adanya suatu konstruksi yang kuat, ternyata tidak saja tergantung
pada bahanbahan konstruksinya, tetapi pada sikap dan karakter konstruktornya.
 
LPMI/ Boy Borang
share

Recommended Posts