Membangun Dengan Kasih

Membangun Dengan Kasih

Firman Tuhan : Efesus 4:17-32
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kami.” (Efesus 4:32)

 

Siapa yang tidak kagum dengan menara Eifel yang tingginya 330 meter, di tengah kota Paris itu? Tourist yang memang bertujuan ke menara itu, mungkin bukan saja melihat-lihat tetapi ia pasti bertanya-tanya, soal seluk beluk menara itu. Mungkin salah satunya ia akan menyelidiki siapa orang-orang yang membangunnya. Bukan mustahil, di balik megahnya konstruksi yang hebat itu, ada banyak masalah yang terjadi di antara para pekerjanya, yang harus diatasi.

Dalam konteks pembangunan menara rohani gereja Tuhan di Efesus, Paulus melihat sangat pentingnya sikap yang ramah (be kind to one another), penuh kasih mesra (tender- hearted), dan saling mengampuni (forgiving each other). Apa yang terjadi kalau para pekerja tidak akur, tidak tegur sapa, tidak saling mengasihi? Belum lagi kalau terjadi kesalahpahaman, berkembanglah konflik, dan akhirnya tidak ada saling mengampuni. Saya pernah memperhatikan ada seorang tukang, ketika ia mencampurkan semen dan pasir, ia menyingkirkan beberapa potongan serpihan kayu yang kecil, daun kering, dan kerikil yangagak  besar, yang tercampur di situ. Saya berpikir apa pengaruhnya? Tapi bagi dia itu harus disingkirkan.

Sama halnya dengan hal-hal negatif yang bisa menggangu keutuhan pelayanan. Atmosfir yang tidak sehat itu akan mempengaruhi pekerjaan konstruksi pelayanan. Kalau tidak, maka rasanya bangunan sudah runtuh sebelum dimulai. Jadi jelas bahwa faktor personal (sikap hati) harus dibenahi lebih dahulu. Jika sikap hati tidak dibentuk, maka segala pengetahuan dan ketrampilan seseorang akan tidak diberdayakan secara maksimal.

Banyak masalah dalam pelayanan kita masa kini, hanya karena relasi sosial yang tidak sehat. Ada yang menyebut masa ini sebagai zaman egoisme atau individualistis. Apakah keramahtamahan masih dapat ditemukan? Apakah kasih mesra masih ada? Dan apakah saling mengampuni masih terasa? Seharusnya jawabannya adalah Ya! Di mana? Di dalam gereja atau komunitas persekutuan Kristen, termasuk lembaga misi pelayanan. Namun kenyataannya bagaimana? Yang tampak hanyalah sikap careless (tak peduli), bukannya kasih mesra, malah komunikasi menjadi dingin. Apalagi saling mengampuni, lebih susah lagi. Pernah ada dua ibu dalam sebuah gereja, karena soal sepele akhirnya konflik, tahan tidak bicara satu sama lain selama bertahun-tahun. Ketika bertemu, jangankan tegur sapa, senyum pun kecut. Ini namanya perilaku destruktif.

Bagaimana dengan kita di tahun yang baru ini? Apakah sikap kita lebih konstruktif atau destruktif?

Inspirasi: Mengharapkan adanya suatu konstruksi yang kuat, ternyata tidak saja tergantung pada bahan-bahan konstruksinya, tetapi pada sikap dan karakter konstruktornya.

 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts