Mengampuni & Percayakan Keadilan-Nya

Mengampuni & Percayakan Keadilan-Nya

Bacaan: Wahyu 19:1-8

“Haleluya! Keselamatan, kemuliaan, dan kekuasaan ada pada Allah kita”. – Wahyu 19:1 TB2

 

Hari ini, umat Muslim merayakan Idul Fitri, sebuah hari kemenangan yang penuh dengan semangat pengampunan dan rekonsiliasi. Mereka saling meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan membuka lembaran baru dengan hati yang lebih bersih. Di saat yang sama, kita sebagai umat Kristen juga sedang menjalani Masa Pra-Paskah keempat, sebuah masa refleksi untuk semakin memahami kasih dan pengorbanan Yesus yang mengampuni dosa-dosa kita di kayu salib. Momen perenungan  yang  mengajarkan kita  tentang nilai  pengampunan dan penyerahan kepada Tuhan.

Dalam Wahyu 19:1-8, Yohanes melihat gambaran sukacita besar di surga setelah kejatuhan Babel, simbol dunia yang penuh kejahatan dan pemberontakan terhadap Tuhan. Seruan “Haleluya!” dalam ayat ini adalah bentuk pujian karena Tuhan telah menegakkan keadilan-Nya. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa keadilan sejati bukan berasal dari manusia, tetapi dari Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Sering kali, ketika kita disakiti, hati kita dipenuhi dengan kemarahan, dendam, atau keinginan untuk membalas. Namun, Tuhan mengajarkan kita untuk mengambil jalan yang berbeda—bukan membalas dengan kebencian, tetapi dengan kasih dan doa.

Yesus sendiri telah memberi teladan terbaik dalam Lukas 23:34, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Jika Yesus mampu berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya, bukankah kita juga harus belajar mengampuni mereka yang menyakiti kita? Pengampunan bukan berarti kita setuju dengan kesalahan orang lain, tetapi itu adalah keputusan untuk membiarkan kasih Tuhan bekerja dalam hati kita. Ketika kita memilih untuk mengampuni, kita sedang melepaskan beban yang mengikat dan menyerahkan keadilan kepada Tuhan. Dalam Matius 5:44, Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Berdoa bagi mereka yang menyakiti kita bukan berarti kita berharap mereka dihukum oleh Tuhan, tetapi agar mereka mengalami perubahan hati dan hidup dalam kebenaran-Nya.

Masa Pra-Paskah keempat mengingatkan kita untuk semakin hidup dalam kasih. Pengampunan bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk kebaikan diri kita sendiri. Saat kita memilih untuk mengampuni dan mendoakan mereka yang menyakiti kita, kita bukan hanya sedang meneladani Yesus, tetapi juga sedang membuka pintu bagi damai sejahtera Tuhan untuk menguasai hati kita. Jika saat ini ada seseorang yang pernah menyakiti kita, marilah kita bawa dalam doa: “Tuhan, aku menyerahkan rasa sakit dan kekecewaanku kepada-Mu. Aku memilih untuk mengampuni dan berdoa bagi mereka yang telah menyakitiku. Sentuhlah hati mereka dan ubahlah mereka dengan kasih-Mu. Aku percaya bahwa keadilan sejati ada di tangan-Mu, dan aku memilih untuk hidup dalam damai sejahtera-Mu. Amin.”

Mari dalam memasuki masa Pra-Paskah ke-empat ini kita bahwa belajar bahwa pengampunan bukan sekadar ritual, tetapi gaya hidup yang harus kita jalani setiap hari. Ketika kita memilih untuk mengampuni, kita tidak kalah, tetapi justru menang bersama Tuhan.

 

“Mengampuni bukan berarti menyerah, tetapi membiarkan kasih Tuhan menang dalam hati kita.”

 

TIM WEB

 

share

Recommended Posts