MENYIKAPI KEBERHASILAN

MENYIKAPI KEBERHASILAN

 Firman Tuhan       : 1 Samuel 16:6-14

“Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab Tuhan menyertai dia.” (1 Sam. 18:14)

 

Kita mengenal Abraham Lincoln, terutama perjuangannya sampai berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat. Apakah keberhasilannya karena ia memiliki kekayaan atau pengetahuan dan keterampilan yang tinggi? Mungkin kalau hanya itu, sudah lama dia mundur. Sebagai seorang pemimpin Kristen, tentu faktor relasi rohaninya dengan Tuhan lebih dominan. Ia orang yang tekun membaca firman Tuhan. Meski menjadi Presiden, jarang terdengar bahwa dia merasa berhasil karena kekuatannya, kecuali mengabdi bagi negara, melayani, yang akhirnya mati ditembak itu.

Dalam Alkitab ditulis tentang Daud bahwa, dia berhasil dalam segala perjalanannya. Apakah itu berarti dia tak pernah gagal? Dia pernah gagal, dalam kaitan dengan moral dan etika (2 Sam 11), di mana dia harus membayar harga yang mahal, tetapi kemudian dia bertobat, bangkit dan membangun relasinya dengan Allah secara intensif. Hubungannya yang benar dengan Allah, sangat mempengaruhi sikapnya terhadap keberhasilannya. Jarang terdengar bahwa Daud bersikap jemawa dengan prestasinya, baik dengan kata-kata maupun perilakunya. Ia dapat dinilai berhasil oleh orang lain, tetapi itu tak pernah keluar dari mulutnya sendiri. Bagi orang lain, keberhasilannya mengalahkan Goliat adalah satu capaian yang spektakuler (menakjubkan). Tapi tidak ada catatan, bahwa Daud menari-nari dan meloncat sambil bersorak kemenangan. Kecuali para penari yang bernyanyi berbalasan, membandingkan capaian Saul yang hanya beribu-ribu musuh, sementara Daud berlaksa-laksa (puluhan ribu). Daud tidak bereuforia atas kemenangannya, karena dia tahu, Tuhanlah yang berperang melalui dia (Kel.14:14). Ia maju atas nama Allah segala barisan Israel itu (ay.45-46). Dia juga tidak menulis mazmur tentang kelebihan dirinya. Tak ada ruang baginya untuk mengagungkan keberhasilan pribadinya, kecuali Allah yang empunya segala kemuliaan itu. Seperti formulasi prinsip Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36).

Bagaimana sikap kita ketika orang mengakui keberhasilan kita? Mungkin kita berkata, “Bukan saya, tetapi Tuhan sendiri, yang memakai saya sebagai saluran berkat-Nya.” Tapi bagaimana kalau kita melihat keberhasilan seseorang? Apakah kita turut bersyukur, memberi apresiasi, dan tidak iri hati? Kalau hati kita benar, kita akan bersikap seperti itu. Jangan sampai kita terjebak pada apa kata orang, yaitu sikap, “susah lihat orang senang” atau “senang lihat orang susah.” Adakalanya orang bisa berkata, “Kalau bukan karena saya, dia tak mungkin menjadi seperti itu.” Alkitab berkata; “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita.” (Roma 12:15a).

Inspirasi: Merasa diri berhasil, segala puji bagi Tuhan. Melihat orang lain lebih berhasil, lebih bersukacita lagi. Segala puji bagi Tuhan.

 

LPMI/ Boy Borang

share

Recommended Posts