MENYIKAPI KEGAGALAN

MENYIKAPI KEGAGALAN

Firman Tuhan      : Ayub 17:1-16

“Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku, cita-citaku.” (Ayub 17:11)

 

Seorang hamba Tuhan pernah berkata: “Jika anda gagal, jangan gila, tapi lagi.” Suatu permainan kata; singkat, padat, lucu, namun tepat. Ada lagi istilah menarik terkait manajemen, yang tidak asing bagi kita, “If you fail to plan, you plan to fail.” (Jika anda gagal membuat rencana, itu berarti anda berencana untuk gagal). Bila mencermati kata-kata semacam ini, tampak jelas bahwa yang menjadi persoalan bukanlah kegagalan itu sendiri, tapi sikap terhadap kegagalan. Kegagalan itu merupakan fakta atau kenyataan, yang tak mungkin tidak ada. Suatu hari seorang presiden diwawancarai, tentang suatu kesalahan atau kekurangan dalam kepemimpinannya, ia hanya menjawab, “Tidak ada seorang pun yang sempurna.”

Ayub sendiri mengakui bahwa dia mengalami kegagalan. Banyak rencana dan cita-cita nya yang belum tercapai. Seiring dengan usianya yang semakin bertambah, dia pun merasa kesempatan makin terbatas. Harapan untuk mencapai cita-citanya semakin sirna. Coba perhatikan kata-katanya yang tampak pesimistik. Bahwa semangatnya patah, umurnya telah habis, dan baginya tak ada lagi harapan, kecuali kuburan (ay.1, 13-16). Ia hanya meminta dari Tuhan agar dapat membelanya, yang dapat memberi keamanan baginya. Terkait hal ini Warren Wiersbe menulis: “Yesus Kristus adalah Pembela dan Perantara bagi umat-Nya serta pengharapan mereka (1 Tim 1:1). Dia memberikan darah-Nya sendiri sebagai jaminan (Ib.9:12). Orang-orang yang percaya pada-Nya, selalu memiliki pengharapan yang hidup (1 Pet.1:3).” Bagaimanapun Ayub telah menjadi salah satu tokoh iman, yang telah mewariskan harta yang indah, yaitu perspektif dan perilaku positif di balik penderitaannya (cf. Ayub 1:21; 2:10). Hidup di dunia dia terbatas, tetapi dia memiliki Allah yang tidak terbatas, yang memberinya pengharapan kekal. Istrinya sendiri, mungkin karena kecewa melihat suaminya, yang di satu sisi, begitu saleh dan mengasihi Tuhan, tetapi mengapa ‘tampaknya’ seperti gagal? Lalu menyuruh suaminya menyangkali Allah? Tidak mungkin!

Ayub mengakui bahwa banyak rencananya yang gagal, namun tidak berarti dia tidak berbuat apa-apa dalam hidupnya. Dia telah menjadi berkat bagi orang percaya di segala abad. Munculnya “Suffering Thology” sebagai salah satu subyek studi teologi, terinspirasi oleh sikap Ayub terhadap penderitaan, termasuk kegagalan sekalipun. Seperti juga Paulus, ketika kapalnya karam, sehingga tidak sesuai rencana, apakah itu kegagalan? Dalam satu artikel ditulis, “Kisah kapal Paulus (Kis. 27), bukanlah kegagalan melainkan ujian iman yang berakhir dengan keselamatan dan terpenuhinya tujuan Tuhan, meskipun penuh penderitaan, badai, kapal karam, dan terdampar di Malta, sebelum akhirnya mencapai Roma, menunjukkan bahwa rencana Tuhan tetap terlaksana meski ada kesulitan besar.” Itulah sebabnya, ia berani mengajak Timotius untuk ikut menderita bagi Kristus (2 Tim 2:3-6). Kita yang ada sekarang, juga berhadapan dengan kenyataan yang sama, bahwa kegagalan itu pasti ada, tetapi jika masih ada kesempatan, segeralah lakukan apa yang kita bisa lakukan.

Inspirasi: Berbuat sesuatu meski pun gagal, lebih baik daripada gagal karena tidak melakukan sesuatu.

 

LPMI/ Boy Borang

share

Recommended Posts