NILAI SUATU PEMBERIAN

NILAI SUATU PEMBERIAN

Matius 6:30

Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali  kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Lukas 6:30

Konsep sekuler tentang memberi jelas kontras dengan konsep Alkitabiah. Kalau sekuler, memberi supaya diberi, sementara yang Alkitabiah memberi karena sudah diberi. Tidak heran Paulus bicara dengan mengutip perkataan Yesus bahwa,   “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”(Kisah 20:35). Kata-kata Tuhan Yesus ini mengingatkan kita akan nilai berharga dari memberi. Rahasia kebahagiaan dalam hidup adalah memberi.  

Hal ini berbeda dengan pandangan kebanyakan orang. Mereka berkata bahwa kebahagiaan didapat karena mereka menerima sesuatu. Semakin banyak mereka menerima semakin mereka bahagia. Tapi pertanyaannya adalah apakah benar dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri membuat mereka bahagia? Dalam kenyataannya tidak. Tetapi sebaliknya kecenderungannya orang justru menjadi egois, dikontrol oleh hawa nafsu dunia yang berakhir pada kehancuran. Tetapi sebaliknya ketika kita memberi kita diberi kelimpahan. Penulis Amsal menulis, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24). Kemudian dalam Amsal 21:26 menulis, “Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar  memberi tanpa batas.”  Musa juga menulis hal ini  dalam Ulangan 15:10, “Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu   berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati   engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.” 

Mungkin kita bertanya, gaji saya kadang tidak cukup untuk kebutuhan sebulan, pekerjaan saya tidak tetap. Apakah saya harus memberi? Mari kita belajar dari Jemaat di Makedonia dalam kekurangan, mereka belajar untuk memberi.  Paulus menulis hal ini dalam 2 Korintus 8:1-3: “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan   mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” Apakah rahasia jemaat ini meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan? Kita menemukan jawabannya dalam  2 Korintus 8:5, “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.” Dua teladan penting yang kita dapatkan, pertama, karena mereka memberi diri pertama-tama dengan Tuhan, kemudian kedua mereka memberi bagi pelayanan Paulus dan tim.

Bagaimana dengan kita? Apakah memberi sudah menjadi kesukaan kita? (baca: 2 Kor. 9:6-8). Mari kita rencanakan setiap bulan untuk mendukung pelayanan atau orang- orang yang membutuhkan di sekitar kita melalui doa dan dana? Komunikasikan kepada Tuhan berapa jumlah dana yang akan kita beri kepada orang-orang yang membutuhkan atau pelayanan yang Tuhan taruh di hati kita? Tindakan nyata kita membuat kita berbahagia dan membuat orang lain juga berbahagia. 

Insipirasi: Tuhan Yesus adalah teladan Agung kita dalam memberi. Ia memberi Diri-Nya untuk mati di kayu salib menebus dosa kita bahkan telah memberikan teladan hidup bagi kita.

 

LPMI/Jerry Tamburian

share

Recommended Posts