Pelestari Kehidupan

Pelestari Kehidupan

Firman Tuhan    : Ulangan 22: 5-12

Apabila engkau menemui di jalan sarang burung … dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak- anaknya. Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu.(Ulangan 22:6-7)

 

Di Yogyakarta ada kampung yang memiliki populasi burung bangau cukup besar. Di tempat itu bahkan jika ada bangau yang sakit atau terluka, maka masyarakat dengan sukarela akan merawatnya hingga sembuh. Kampung pelestari bangau itu bahkan membangun tugu dengan patung bangau dan peringatan besar larangan berburu burung tersebut. Saat ini di daerah perkotaan pelestarian burung mulai menampakkan hasilnya.

Orang Yahudi berkata, “Ini adalah perintah yang terkecil dari semua perintah yang ada dalam hukum Musa.” Namun demikian, jika perintah itu ditaati, maka janji yang menyertainya sama dengan janji yang diberikan apabila perintah Allah yang kelima dipatuhi, salah satu perintah terbesar, yakni supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu. (Ul. 5:16 : Hormatilah ayahmu dan ibumu, …..supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu). Orang yang melepaskan seekor burung dari tangannya, yang bernilai dua ekor burung di semak-semak, semata-mata karena Allah memerintahkannya, memperlihatkan lewat perbuatannya itu bahwa ia hidup jujur sesuai dengan segala titah Allah, dan bahwa ia lebih baik menyangkal diri daripada berdosa terhadap Allah. Burungkah yang Allah perhatikan? (1Kor. 9:9). Ya, tentu saja, dan mungkin hukum inilah yang disinggung oleh Juruselamat kita (Luk. 12:6), bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian, tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah.

Dalam hidup ini ada banyak hal yang sepertinya remeh atau sepele namun sesungguhnya berhubungan/berkorelasi dengan banyak hal yang besar. Hati-hatilah dan jangan meremehkan hal kecil dan sederhana. Kadang banyak berkat dan mukjizat yang tersembunyi di balik kesederhanaan. Demikian juga siapapun manusia yang kita temui atau bahkan berelasi, jangan sekali-kali merendahkan mereka karena hal itu menghina Penciptanya. Sebab, sama seperti ketidaktaatan dalam perkara kecil menunjukkan penghinaan yang sangat besar terhadap hukum Allah, demikian pula ketaatan dalam perkara kecil menunjukkan penghormatan yang sangat besar terhadap hukum Allah.

Inspirasi: Allah menciptakan alam semesta dengan pengaturan yang tertib dan indah. Saat kita mengerti dengan benar kita pun akan melestarikan alam dengan lebih bertanggungjawab.

 

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd

share

Recommended Posts