Pemimpin yang Berintegritas

Pemimpin yang Berintegritas

Bacaan :I Timotius 3:1-9

Karena itu, pengawas jemaat  haruslah seorang yang tak bercela, mempunyai hanya satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, pandai mengajar orang.” (1 Timotius 3:2 TB2)

 

Paulus memberikan pedoman tentang syarat seorang penilik jemaat (pemimpin gereja), yang juga bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki integritas, baik dalam keluarga, karakter pribadi, maupun dalam masyarakat.Dalam ayat ini, Paulus memberikan standar tinggi bagi seorang pemimpin gereja. Ia harus memiliki kehidupan yang tak bercacat, artinya memiliki integritas dalam segala hal. Namun, apakah ini berarti seseorang yang pernah berdosa di masa lalu tidak bisa menjadi pemimpin?

Kekristenan mengajarkan bahwa setiap orang memiliki masa lalu, tetapi anugerah Tuhan memungkinkan perubahan. Seorang yang dahulu jatuh dalam dosa tetapi telah bertobat dan hidup dalam kebenaran bisa menjadi pemimpin, karena yang dinilai adalah bagaimana ia hidup setelah bertobat.

Paulus sendiri adalah contoh nyata. Sebelum mengenal Kristus, ia menganiaya jemaat. Namun, setelah bertobat, ia menjadi pemimpin besar dalam gereja. Demikian juga dengan kita—bukan kesalahan masa lalu yang menentukan masa depan, tetapi bagaimana kita hidup dalam pertobatan dan membangun integritas. Jadi, seorang pemimpin bukanlah orang yang sempurna sejak lahir, tetapi orang yang telah dipulihkan dan hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan.

Kita semua, dalam kapasitas masing-masing, adalah pemimpin—di rumah, di pekerjaan, di komunitas. Tuhan ingin kita menjadi pribadi yang dapat dipercaya, bukan hanya karena perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata. Integritas adalah fondasi yang membuat seseorang layak diikuti dan dihormati.

“Tuhan tidak memilih orang yang sempurna untuk menjadi penjala, tetapi Ia menyempurnakan orang yang dipilih-Nya.”

TIM WEB

share

Recommended Posts