Setia Tanpa Validasi

Setia Tanpa Validasi

Firman Tuhan : Yakobus 3:13–18

“Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (Yakobus 3:13)

 

Di zaman media sosial, kita sering melihat orang memamerkan hampir segala hal: pencapaian, kebaikan, pelayanan, bahkan kerohanian. Ada yang berbagi karena ingin memberi inspirasi, tetapi tidak jarang juga karena membutuhkan pengakuan dan validasi. Unggahan tentang memberi, melayani, atau berdoa bisa menjadi kesaksian, namun bisa pula berubah menjadi “panggung rohani” yang diam-diam menuntut pujian. Dunia digital membuat batas antara kesaksian dan pamer semakin tipis, dan hati kita mudah tergelincir tanpa disadari.

Yakobus menegaskan bahwa hikmat tidak ditunjukkan lewat kata-kata indah atau tampilan luar, melainkan melalui cara hidup yang baik dan sikap lemah lembut. Hikmat yang berasal dari Allah tidak lahir dari iri hati, ambisi pribadi, atau keinginan untuk menonjolkan diri. Sebaliknya, hikmat duniawi sering kali mendorong orang melakukan hal baik dengan motivasi yang keliru: ingin dipuji, ingin dilihat, atau ingin diakui lebih rohani daripada yang lain. Dari sanalah muncul kekacauan dan perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah.

Realitas ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, Yesus pun mengingatkan tentang orang-orang yang melakukan kewajiban rohani agar dilihat dan dipuji. Sampai hari ini, pola itu masih berulang: ada yang memberi sumbangan tetapi ingin namanya diumumkan, ada yang berdoa dengan suara keras agar diperhatikan, ada pula yang melayani sambil berharap sorotan. Yakobus mengajak kita memeriksa hati: apakah kebaikan yang kita lakukan lahir dari kasih dan ketaatan, atau dari keinginan untuk diakui manusia?

Hikmat dari atas, kata Yakobus, adalah murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, dan menghasilkan buah kebenaran. Hidup yang berkenan kepada Allah bukan tentang seberapa banyak orang melihat perbuatan kita, melainkan seberapa tulus kita melakukannya di hadapan Tuhan. Ketika kesetiaan dijalani dengan hati yang benar, di sanalah kita menemukan damai dan sukacita yang sejati—bukan dari pujian manusia, tetapi dari perkenanan Allah.


Hidup yang sungguh bersaksi tentang kebaikan Tuhan tidak mencari sorotan, sebab terang sejati selalu cukup ketika Tuhan yang melihat.

 

Tim Web

share

Recommended Posts