Sukacita Yang Kembali

Sukacita Yang Kembali

Bacaan :Lukas 15:1-10

Aku berkata kepadamu : “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat “. – Lukas 15:10 TB2.

 

Ayat ini adalah penutup dari perumpamaan tentang dirham yang hilang. Yesus ingin menunjukkan betapa berharganya satu jiwa di mata Allah. Dalam budaya Yahudi pada masa itu, sepuluh dirham bukan sekadar harta, tetapi sering kali melambangkan sesuatu yang sangat personal, seperti mas kawin yang memiliki nilai emosional bagi seorang perempuan. Maka ketika satu dirham hilang, itu bukan hanya kerugian secara materi, tetapi kehilangan sesuatu yang menyentuh hati. Itulah sebabnya perempuan itu menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencari dengan sungguh-sungguh sampai ia menemukannya. Dan ketika ia menemukannya, sukacita yang besar meledak, bukan hanya dalam dirinya, tetapi juga ia undang orang lain untuk merayakannya.

Yesus sedang menggambarkan hati Allah yang penuh kasih. Dia tidak pasif menunggu orang berdosa kembali, melainkan aktif mencari mereka, satu per satu. Bahkan satu orang yang bertobat membawa sukacita besar di surga. Dalam hidup kita sehari-hari, terkadang kita lupa bahwa orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga, adalah “dirham-dirham berharga” yang Tuhan percayakan kepada kita. Karena kesibukan, rutinitas, atau bahkan perbedaan pendapat, kita sering merasa jauh satu sama lain. Namun, Tuhan mengingatkan kita bahwa tidak ada yang lebih penting daripada memulihkan dan menjaga keutuhan kasih di tengah keluarga.

Salah satu cara sederhana namun bermakna untuk merayakan kebersamaan adalah dengan melibatkan semua anggota keluarga dalam kegiatan memasak bersama. Di dapur yang sederhana itu, kita bisa belajar saling mendengarkan, bekerja sama, dan saling melayani. Mungkin ada yang tugasnya hanya mencuci sayur, memotong bawang, atau sekadar menyendok nasi ke piring, tetapi semua peran itu berharga. Seperti perempuan dalam perumpamaan itu, kita belajar untuk tidak mengabaikan satu pun yang ada di sekitar kita. Dan saat masakan selesai, duduk bersama di meja makan, berbagi cerita, dan menikmati hidangan hasil kerja sama itu menjadi gambaran nyata dari sukacita surga—ketika yang hilang telah ditemukan, dan yang jauh telah dipulihkan.

Karena sejatinya, Tuhan tidak hanya hadir dalam ibadah yang megah atau doa yang panjang, tetapi juga dalam tawa di dapur, dalam percakapan sederhana di meja makan, dan dalam kebersamaan yang hangat di rumah. Di sanalah sukacita  itu dimulai, dan dari sanalah hati kita kembali dihangatkan oleh kasih-Nya.

Kasih Allah merayakan setiap perjumpaan yang dipulihkan. Seperti surga bersukacita atas satu jiwa yang kembali, demikian juga hati kita bersukacita dalam kebersamaan yang sederhana namun bermakna.

 

TIM WEB

share

Recommended Posts