TERUS BERJUANG

TERUS BERJUANG

Firman Tuhan  : 2 Timotius 2:1-13 

“Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soalsoal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Tim. 2:4).

Duane Litfin, komentator surat 2 Timotius, berkata: “Pelayan Injil bagaikan seorang prajurit yang hanya punya satu tujuan, punya disiplin yang ketat, dan punya ketaatan yang tak perlu dipertanyakan (unquestioning), terhadap komandannya.” Prinsip ini dapat dilihat pada komitmen seorang tentara, yang siap berjuang, “hidup atau mati.”

Seperti seorang tentara yang sedang berjuang dalam tugasnya, dengan tidak mengkhawatirkan soal penghidupannya, demikianlah seharusnya seorang yang berjuang dalam pelayanan. Memang karena berbagai kesukaran, seorang hamba Tuhan sungguh-sungguh diuji. Ada yang akhirnya menyerah, meninggalkan pelayanan seperti Demas, yang lebih mencintai dunia ini (2 Tim 4:10), tetapi ada pula yang tetap berjuang, karena dengan iman ia percaya, Tuhan tak mungkin meninggalkannya (Fil.4:6, 19). Paulus sendiri memang pernah berjuang untuk memenuhi keperluan hidupnya dengan ‘membuat tenda,’ karena memang faktor situasional, tetapi kemudian hari ia fokus dalam pekerjaan misi, karena Tuhan telah menyediakan keperluannya lewat orang-orang percaya. Ketika menyikapi masa-masa sulit, Paulus menulis sejumlah prinsip seperti, “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala hal,” “aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan,” “tidak ada yang merupakan rahasia bagiku: baik itu kenyang atau kelaparan,” “kelimpahan atau kekurangan,” “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (lih. Fil.4:11-13). Di sini Paulus tidak hanya mengajarkan pentingnya kematangan rohani, yaitu iman yang semakin dewasa, tetapi juga kematangan pribadi, yaitu bagaimana bersikap terhadap kesusahan (adversity) dalam pelayanan, yang mencakup akal, emosi dan kehendak. Tatkala kita merenungkan Mazmur 23:1, Daud dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa Tuhan itu adalah gembalanya, yang tak membuatnya kekurangan sesuatu pun (I shall not want). “Juruselamat yang mati bagi anda, juga hidup bagi anda dan memelihara anda, seperti seorang gembala memelihara domba-dombanya (Yoh 10:1-18). Jika anda dapat berkata, “Tuhan adalah Gembalaku,” anda juga dapat berkata, “Aku tidak akan kekurangan.” (Warren Wiersbe). 

Pernahkah kita menilai kualitas panggilan kita sendiri? Masih ingatkah kita tentang pernyataan-pernyataan kualitatif yang dikatakan Yesus? “Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku (Mat. 16:24; Luk.9:23).” Jikalau kualitas ini telah terinternalisasi ke dalam hati kita, maka berarti panggilan kita semakin matang, dan kita akan terus berjuang bagi kemuliaan-Nya. Maju pantang mundur!

Inspirasi: Seorang pejuang iman, selalu mengarahkan matanya kepada Yesus, yang ia tahu, tak mungkin dan tak pernah meninggalkannya, kapan pun dan dalam keadaan apa pun.  

 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts