TERUS BERTAHAN

Firman Tuhan : Daniel 1:1-9
“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” (Dan. 1:8).
John Sailhamer, dalam bukunya, NIV Compact Bible Commentary, berkata: “The integrity of Daniel and his three friends is fully established here. Their refusal to eat the rich foods of Babylonian king, shows them to be true Israelites, who remain faithful to God’s law, even in the most adverse circumstances.” Sailhamer menyoroti integritas Daniel dan kawan-kawannya, yang secara konsisten menolak makanan istana raja Babilonia, walaupun disebut sebagai rich food itu. Satu pertanyaan muncul, apakah Daniel bergumul di balik pernyataan tekadnya itu? Tentu saja dan itu manusiawi.
Namun Daniel adalah seorang yang terus membangun hubungan pribadi dengan Allah. Hal itu dibuktikan dengan konsistensinya dalam kehidupan doa pribadi (Dan. 6:11). Ia memiliki kamar doa yang tetap, waktu yang teratur (3 kali sehari) ia berlutut, berdoa serta memuji Allah, seperti yang biasa dilakukannya. Ini menunjukkan bahwa persekutuan pribadinya dengan Allah berada pada posisi prioritas utama (main priority), bukan sekedar penting, tapi sangat penting. Itu menjadi agenda pribadi yang tak dapat diganggu gugat. Jadi kalau ditanya, mengapa ia bisa mempertahankan prinsipnya, yaitu berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja, itu bukan karena dia hebat, tetapi karena ia kuat di dalam Tuhan. Tentu secara manusia, itu sangat tidak mudah baginya. Pasti dia sangat bergumul sebelum menyampaikan tekad itu. Jabatannya dipertaruhkan. Tambahan pula, dia tidak sendiri, tapi berempat (Daniel, Hananya, Misael, Azaria). Bagaimana kalau ada satu di antara mereka yang meleset dari komitmen itu? Sekali lagi, sungguh tidak mudah untuk mempertahankan sebuah integritas. Namun, kembali lagi, iman Daniel membuatnya punya keyakinan yang kokoh, bahwa tidak mungkin Allah membiarkannya. Dan benarlah bahwa keempat orang itu, pada akhirnya dalam keadaan selamat, di mana penampilan mereka malah jauh lebih sehat dan lebih cerdas (ay 20).
Terus bertahan dalam keadaan yang sulit, sangatlah sulit. Melayani pekerjaan Tuhan dari hari ke hari, bukannya makin mudah. Bagi sebagian orang, untuk berusaha tetap hidup benar di tengah ketidakbenaran, hampir mustahil. Seperti Lot yang mencoba hidup kudus di negeri Sodom, bukannya menjadi berkat malah menjadi bencana (Kej. 19). Kita tidak kuat berjalan sendiri. Kita harus meminta kuasa Roh Kudus memenuhi kita. Kita harus setia sampai akhir. Seperti syair lagu klasik, “Siapa yang setia..,” dalam refrainnya dikatakan, “Siapa yang setia, tahan k’ras. Hai ingat janji, Mukhalis Tuhan-Mu. Dia nanti dapatlah khalas. Mahkota indah di dalam rumah-Hu.” Belajarlah juga pada Musa, ia bertahan sama seperti ia melihat yang tidak kelihatan (br. 11:27b). Karena itu, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan.” (Ef. 6:10).
Inspirasi: Tetap bertahan dalam kesukaran, adalah suatu keputusan. Meskipun terus ada serangan dan intimidasi yang bertubi-tubi dari berbagai penjuru, keputusan tak berubah.
LPMI/Boy Borang
Recommended Posts

Jangan Ada Padamu Allah Lain di Hadapan-Ku
Februari 03, 2026

KASIHILAH SESAMAMU
Februari 02, 2026

TAK TERDUGA !!!
Januari 30, 2026

