TRANSFORMING CONFESSION

TRANSFORMING CONFESSION

Bacaan: 1 Yohanes 1:8-22

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

 

Bisakah kita pikirkan seperti apa pengertian seorang ateis tentang mengaku dosa? Ia tidak berurusan dengan dosa. Baginya Allah itu tidak ada, lalu mengaku dosa kepada siapa? Hati dan pikirannya memang dipenuhi dengan sikap sinis dan skeptis. Meskipun Alkitab berkata bahwa dia adalah orang berdosa, tetapi dia tidak tahu menahu dengan apa itu.

Berbeda dengan orang percaya, yang sadar dia memiliki hubungan dan persekutuan dengan Allah, maka dia mengerti apa itu dosa, dan dia pun tahu apa itu pengakuan dosa. “Confess means to say the same thing about sin that God does.” (Ryrie). Yohanes merasa perlu menegaskan pentingnya pengakuan dosa, karena dia ingin jemaat semakin dewasa dalam iman. Pengakuan dosa bukan sekedar pengakuan liturgikal setiap hari Minggu. Jemaat harus kuat dan menang terhadap segala pengajaran sesat, termasuk yang disebutnya anti kristus, yang mungkin berasal dari jemaat itu sendiri, yaitu mereka yang tidak bersungguh-sungguh dalam iman (1 Yoh. 2:18-20). Bahkan mereka disebut pendusta, penipu, dan nabi palsu (1 Yoh 2:22; 2:26; 2 Yoh 7; 4:1). Yohanes banyak berbicara mengenai prinsip-prinsip dalam persekutuan orang percaya dengan Kristus. Baginya persekutuan itu harus dirawat dengan baik agar tidak rusak. Dosa memang merusak keharmonisan persekutuan dengan Tuhan maupun sesama. Belajar mengakui dosa seperti yang dilakukan oleh raja Daud (Mazmur 32), memang suatu peperangan rohani. Ia menyadari, selama dia berdiam diri (menyimpan dosanya), jiwanya gelisah dan tertekan. Namun tatkala dia mengakuinya, ia pun beroleh kebebasan dan damai sejahtera dari Allah.

Seperti apa kondisi persekutuan kita dengan Tuhan hari ini? Seorang pernah berkata; orang yang menyimpan dosa, sama dengan menyimpan racun di dalam hati. Mungkin itu dosa kebencian, iri hati, kemarahan, yang tidak diakui, benar-benar menggerogoti kehidupan rohani. Semangat dan sukacita melayani seperti lenyap begitu saja. Belum lagi kehilangan semangat berdoa dan membaca firman Tuhan, apalagi memberitakan Injil. Perasaan menjadi sensitif, emosi mudah meledak tak terkendali. Kecuali datang di hadirat Tuhan, memohon pengampunan dan penyucian, maka di sana ia beroleh kelegaan. Ia pun mengalami perubahan dan pembaharuan hari demi hari, oleh pertolongan Roh Kudus. Bagaimana dengan kita?

Inspirasi:

Pengakuan dosa legalistik agamawi sangat berbeda dengan pengakuan yang datang dari hati yang rindu membangun persekutuan yang dinamis dengan Allah.

 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts