TRANSFORMING PRAYER

TRANSFORMING PRAYER

Bacaan : 1 Yohanes 3:22

“Dan apa saja yang kita minta, kita memperoleh dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22)

 

Suatu hari seorang pria muda yang mencoba untuk mengembangkan sebuah usaha kecil, mengungkapkan sebuah statement yang kelihatannya sederhana tetapi serius. Dia berkata: “Mengapa ya, saya sudah berdoa, sudah berusaha, sudah melangkah, tapi sepertinya tak ada hasilnya. Sementara ada orang lain, mereka bukan Kristen tapi mereka yang berhasil. Apakah Tuhan tidak mendengar doa saya?” Kondisi ini membuatnya tampak kurang semangat, mulai cenderung bersikap sinis, dengan janji Tuhan. Melihat sikap ini, orang bisa berkata, “Oh itu manusiawi. Itu dapat dipahami. Tetapi di sisi lain mungkin ada yang berkata, “Itu berarti dia belum sungguh-sungguh bertumbuh dalam iman. Jikalau imannya bertumbuh makin dewasa, ia mampu melihat mengapa doanya belum dijawab, dan sebagainya.

Jemaat yang menerima surat Yohanes ini, apakah segera mengerti maksud perkataan dalam 1 Yoh. 3:22 itu? Tentu saja mereka dapat memahami dan menerimanya, kalau mereka terus menerus makin mengenal Allah dan kehendak-Nya. Dari tulisan dan penekanan-penekanan Yohanes dalam surat ini, tampaknya jemaat di sana dipandang bisa menerimanya. Mereka boleh berdoa (meminta) apa saja, jika itu berkenan kepada Allah, sesuai kehendak-Nya. Prinsip ini juga terlihat dalam Matius 7:7, bahwa setiap murid diperintahkan untuk berdoa, yang tentu saja sesuai kebutuhannya. Kebutuhan apa? Kebutuhan tidak hanya menyangkut soal-soal jasmaniah (Mat. 7:7-11), tetapi juga kebutuhan rohaniah, agar Tuhan memberi hikmat (Yak.1:5), kekuatan rohani, kemenangan dalam peperangan, semangat misioner, dan yang sangat penting juga agar bisa lebih mengasihi Tuhan, rela mengampuni kesalahan orang lain, dan masih banyak lagi, seperti apa yang Paulus doakan bagi jemaat Tuhan (Ef. 3:14-21).

Harus diakui bahwa masih lebih banyak orang Kristen kalau ditanya, apa yang mau didoakan, cenderung pada soal-soal kebutuhan jasmaniah atau materi (kesehatan, usaha/pekerjaan, ekonomi, keamanan, rencana bepergian, dan sebagainya). Agak kurang yang minta didoakan agar lebih giat berdoa, membaca firman, lebih semangat memberitakan Injil, supaya lebih sabar dalam pelayanan, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Apakah hidup kita semakin kuat dan makin dewasa secara rohani karena kita suka berdoa?

Inspirasi:

Seorang Kristen sejati adalah orang yang telah dibebaskan dari dosa. Karena kebebasan ajaib itu, maka ia pun menjadi bebas berbicara dengan Allah dalam doa.

 

LPMI/Boy Borang

 

 

 

 

share

Recommended Posts