TRANSFORMING RIGHTEOUSNESS

TRANSFORMING RIGHTEOUSNESS

Bacaan : 1 Yohanes 3:4-10

“Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis; setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian pula barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 3:10)

 

Mana yang lebih baik, agama tanpa kasih atau kasih tanpa agama? Idealnya, orang berharap bahwa di dalam agama Kristen seharusnya ada atmosfir saling mengasihi. Namun kadang- kadang orang dunia (yang belum percaya) menjadi heran, malah di dalam komunitas Kristen banyak sekali terjadi konflik dan permusuhan yang tak ada habis-habisnya. Sampai-sampai, konon pada suatu hari, pihak kepolisian ketika dimintai bantuan untuk melerai adanya kelompok Kristen yang berselisih, malah polisi berkata, “Ini tidak terbalik kah? Bukankah seharusnya kami yang meminta bantuan orang gereja untuk membina dan melayani masyarakat yang bermasalah?”

Apakah di zaman Yohanes ketika ia menulis surat ini, ada gejala terjadi permusuhan di antara orang percaya yang dia surati? Kalau sampai Yohanes harus menekankan pentingnya hidup dalam kebenaran dan kasih, itu berarti dia melihat gejala itu. Tak habis-habisnya ia bicara kebenaran dan kasih. Bahkan dengan tegas ia memberitahu bahwa, orang yang hidup dalam kebenaran dan mengasihi saudaranya, adalah indikator mereka yang disebut anak- anak Allah. Kalau tidak, maka mereka adalah anak-anak Iblis. Warren Wiersbe menulis, “Kebenaran tanpa kasih itu kejam, tetapi kasih tanpa kebenaran itu munafik.” Yohanes melihat adanya suatu ketidakmungkinan (impossibilitas), bila ada yang mengatakan sudah lahir dari Allah tetapi tidak melakukan kebenaran dan mengasihi saudaranya. Dengan kata lain, “melalui kelahiran baru, terjadi pemisahan yang radikal dengan dosa. Meskipun karakter dosa dalam orang Kristen tidak berbeda dengan sebelum ia menjadi anak Allah, status dosa telah diubah secara dramatis.” (Sinclair Ferguson).

Hidup dalam kebenaran adalah suatu peperangan bagi kita sekarang. Sangatlah mudah kita mendorong orang lain untuk melakukannya, padahal kita sendiri juga harus bergumul untuk hal ini. Dunia tidak tertarik melihat doktrin kebenaran itu, tanpa kita lebih dahulu menunjukkannya dalam hidup sehari-hari. Apakah kita mampu? Tidak mungkin! Itu bukanlah produk dari usaha kedagingan kita. Karena itu kita tidak boleh berhenti mengandalkan kuasa Roh Kudus atas kita (Gal.5:16). Ingat, ketika hidup dalam kebenaran yang ditandai oleh kasih, itu memiliki pengaruh, bukan saja dalam scope lingkungan persekutuan kita, tetapi juga dalam scope masyarakat luas, termasuk bangsa kita. Seperti kata pengamsal (Ams.14:34), “Kebenaran meninggikan derajat bangsa…” Percayakah kita itu dapat terjadi?

Inspirasi:

Tatkala Dia, Tuhan Yesus Kristus yang adalah Kebenaran itu sendiri berada di dalam komunitas yang percaya, kebenaran itu pasti membawa perubahan dan pembaharuan.

 

LPMI/Boy Borang

share

Recommended Posts